Sustainable Growth

Fachmy Casofa

Saya baru saja mendapatkan kabar. Republika, mem-PHK 60 karyawan. Media yang memang sudah berada di cerita senjanya namun yang posisinya adalah karyawan di sana dan memilih bertahan, menurut saya juga nggak wise. Kok bisa? Sudah tahu kapal akan karam, tidak menyiapkan sekoci. Pas kena pengurangan atau terkena PHK, justru malah menyalahkan perusahaan, keadaan, pemerintahan, bahkan menyalahkan Pak Jokowi, yang jelas-jelas sedang sibuk menyiapkan IKN.

Salah satu alasan dulu kenapa resign adalah karena mumpung usia masih muda. Menghabiskan jatah belajar, kegagalan-kegagalan di usia muda. Jadi, saat anak memasuki usia sekolah, saya tak perlu merasakan pontang-panting seperti pada beberapa orang. Ternyata benar. Lima tahun pertama dalam membangun bisnis penuh dengan cerita, yang tak semuanya indah, namun juga berisi luka-luka yang menganga. Ada yang berhasil dan menghadirkan income indah, ada yang berhasil tetapi harus ditutup dengan alasan-alasan, ada yang juga yang harus ditutup karena memang secara logis, hal itulah yang harus saya lakukan.

Lagipula, bekerja selama 40 jam per pekan selama bertahun-tahun untuk monthly salary yang tak seberapa itu konsep yang sangat aneh menurut saya. Nggak make sense. Bekerjanya, dari pagi hingga petang. Lemburan? Fee-nya tak seberapa. Teman-teman kerja? Awal-awal sih asyik, lama-lama, yang ada malah saling ghibah sana-sini. Saya harus berkali-kali keluar dari grup perghibahan, karena memang, “ngapain cobaaaaa”.

Ujian Sesungguhnya

Ujian sesungguhnya saat usaha sudah running dengan naiknya income yang signifikan dan stabil adalah ujian untuk membeli ini-itu secara brutal. Ingin tampil wah. Ingin dianggap sukses. Ingin segera ambil mobil. Ingin segera ambil motor keluaran terbaru. Tanpa benar-benar paham mana yang prioritas, mana itu aset, mana itu liabilitas. Semua dibabat.

Saya sudah cukup kenyang menyaksikan teman-teman saya sendiri, yang per bulannya bisa menghasilkan 10 juta, 20 juta, 30 juta, dan seterusnya. Yang kalap. Karena memang tidak pernah melihat dan memegang uang sebanyak itu dalam satu bulan, lalu tiba-tiba berani mengambil kredit ini-itu. Merasa bisa membayar di kemudian hari. Tanpa pernah ia sadari, bahwa income bisnis itu fluktuatif. Kalau kita tidak jeli untuk memantapkan fondasi aset terlebih dahulu, maka terpaan angin meskipun kecil, akan mudah untuk menggoyangkan bisnis kita.

Hingga kemudian ia terjatuh. Meratapi nasib. Income merosot tajam. Sumber income terbatas.

Pada saat yang sama, saya juga melihat teman-teman saya yang sudah memulai bisnisnya sejak lama. Menguji kestabilan income bertahun-tahun. Dan baru di tahun ke-6, ia membangun rumahnya, membeli mobilnya. Ia sabar. Telaten. Bahkan postingan di media sosialnya pun biasa-biasa saja. Tetapi, kalau sudah intens chat, maka akan banyak wejangan bisnis yang mengasyikkan.

Multiple Stream of Incomes

Sejak dulu, saya penyuka konsep banyak sumber pemasukan atau istilah kerennya adalah multiple stream of incomes. Semakin banyak, semakin bagus. Bagus lagi, semakin banyak, tanpa melibatkan keterlibatan kita, maka akan semakin bagus lagi. Saya sejak dulu melakukannya, karena untuk berjaga-jaga, sebagai sebuah ikhtiar, apabila satu hal tumbang atau bermasalah, maka masih ada hal lain yang bisa dijadikan sekoci untuk kemudian perlahan diubah menjadi kapal pesiar.

Remote Working

Bekerja secara remote, adalah konsep yang sudah saya kenal dan kagumi sejak bertahun-tahun lalu. Tetapi, baru terlaksana beberapa tahun terakhir saja. Ini adalah konsep yang luar baisa, untuk tipikal manusia-manusia mager seperti saya. Konsep yang memungkinkan untuk: bekerja dari mana saja asalkan ada internet, dengan income di atas rata-rata, dan menggunakan satu modal penting: kreativitas.

Modal kreativitas ini adalah keunggulan modal yang penting, karena tak perlu mencari pemodal, tak butuh investor, bahkan tak butuh untuk mencari utang di bank.

Also Read

Bagikan:

Tags

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.