ENXYCLO

Branding & Digital Marketing Agency

Strategi Bisnis Social Bella: Hadirkan Sociolla, Lilla, Beauty Journal dan Soco

social bella

Sebagaimana dikabarkan oleh Tech in Asia, bahwa startup kecantikan Social Bella pada November 2021 berhasil meraih pendapatan sebesar Rp620 miliar selama periode tahun 2020.

Hal itu berarti dua kali lipat pendapatan dari tahun sebelumnya. Dan laba kotor Social Bella juga naik menjadi Rp232 miliar.

Menariknya, selama pandemi, user mereka tumbuh dua kali lipat. Angka itu jelas jauh lebih tinggi dari rata-rata pertumbuhan pengguna e-commerce yang ada di Indonesia, di mana menurut Statista berada di angka 15 persen.

Lalu, apa rahasianya hingga bisa menjadi raksasa startup kecantikan di Indonesia?

Rahasianya diungkapkan oleh Christopher Madiam, co-founder dan Presiden Social Bella.

 

1. Menguasai Ritel

Ini unik, sih, menurut saya. Karena salah satu strategi ekspansi bisnis dari Social Bella yang paling mencolok adalah dengan melakukan ritel fisik yang agresif.

Pada saat startup lain memilih lebih konversatif untuk mengembangkan lini bisnis fisik alias offline akibat hantaman pandemi, eh …. Social Bella justru membuka lebih dari 20 toko fisik baru selama periode 2 tahun terakhir di Indonesia. Mengagumkannya lagi, kini justru sudah memiliki 4 toko fisik di kota berbeda di Vietnam.

Gokil, kan?

Menariknya lagi, Social Bella tak memaknai kehadiran toko fisik sebagai channel penjualan semata untuk meraup tambahan laba. Social Bella justru memposisikan diri untuk memfasilitasi preferensi belanja konsumen yang kian hari makin beragam.

Bahkan, menurut Chris, tidak semua toko sudah mencapai titik impasnya alias sudah BEP. Tetapi, dengan langkah ini, Social Bella tentu saja sudah melangkah jauh untuk menancapkan kuku brand-nya di benak konsumen.

Bahkan, menurut Chris, bisnis yang fokus pada satu industri yang spesifik membutuhkan pendekatan yang berbeda.

Dengan kata lain, “Menawarkan harga yang paling terjangkau saja tidak cukup, Social Bella juga harus menghadirkan pengalaman berbelanja senyaman mungkin bagi konsumen. Era digital membuat ini akan makin menantang karena preferensi pelanggan yang makin beragam karena opsi yang melimpah.”

Benar juga, sih.

Sebagai pamungkas, Chris juga memejangi kita para pebisnis. “Offline retail sampai dua puluh tahun lagi pasti akan tetap dibutuhkan konsumen,” terang Chris.

Selain itu, Social Bella bermain di niche kecantikan. Ini tentu saja, menurut saya, pendekatan emosional yang dihadirkan oleh ritel fisik akan sulit digantikan oleh transaksi online.

Di bisnis produk kecantikan misalnya, konsumen ingin ada kotak fisik, entah itu untuk menilai tekstur suatu produk ataupun aroma yang dihasilkan. Lalu, ada konsultasi dengan perwakilan brand yang tidak hanya membantu konsumen menentukan pilihan, tetapi juga efektif untuk menumbuhkan rasa percaya (trust).

Ya, seperti itu, kan?

Dan menurut saya, ini langkah hebat, karena cepat atau lambat, pandemi akan berakhir. Saat itu terjadi, ia ingin Social Bella jadi pihak yang siap menyambut kembalinya konsumen ke pusat perbelanjaan.

Dan poin pentingnya dari strategi ini adalah: dengan mengembangkan sistem sendiri, Social Bella tidak bergantung dengan pihak manapun sehingga lebih leluasa saat perusahaan memutuskan untuk scale up.

Apalagi, kini Social Bella sudah berhasil menggandeng 50 brand sebagai mitra eksklusif, dengan total stock keeping unit (SKU) hingga puluhan ribu produk.

Menariknya, 50 brand tersebut tidak hanya akan dipasarkan di platform marketplace dan gerai fisik Social Bella. Tetapi juga distribusikan mulai dari modern trade seperti Watson, Century dan Guardian, sampai ke convenience store seperti Indomaret dan Alfamart, bahkan ke department store seperti Ranch Market.

 

2. Membangun Ekosistem

Apa saja produk Social Bella?

  • Sociolla, e-commerce produk kecantikan dan perawatan kulit.
  • Lilla, e-commerce produk perawatan kulit ibu dan anak.
  • Beauty Journal, media informasi seputar kecantikan dan gaya hidup.
  • SOCO, komunitas kecantikan.

Soco, sebuah platform yang memfasilitasi para penggiat kecantikan saling berbagi. Mulai dari mendiskusikan bahan suatu produk, menuliskan ulasan, hingga mencari tahu tren kecantikan terkini.

Soco memang tidak secara langsung memberikan dampak finansial bagi perusahaan. Namun, dampak lainnya tak bisa disepelekan, yakni komunitas atau tribe.

Mustahil mengembangkan suatu ekosistem tanpa adanya dukungan komunitas yang solid.

Nah, ini bagian menariknya.

Dengan konsumen yang teredukasi dengan baik akan lebih berpotensi melakukan pembelian. Produk seperti apa atau retailer mana yang akhirnya jadi pilihan konsumen tak terlalu jadi soal, karena Social Bella hadir nyaris di seluruh ekosistem.

Ibarat di Apple. Mau beli earphone ada, mouse ada, laptop ada, jam tangan ada, nonton film langganan ada. Semua ada. Ekosistem terbentuk.

Lilla, sebagai e-commerce produk perawatan kulit ibu dan anak, juga menarik untuk diulas.

Mayoritas demografi pengguna mereka perempuan.Seiring berjalannya waktu, ada sebagian pengguna mereka yang telah atau akan menjadi seorang ibu. Artinya, muncul kebutuhan baru dari pengguna yang perlu dijawab.

Dari sisi pasar, segmen ibu dan anak juga menyimpan potensial. Menurut hasil survei Asianparent pada tahun 2019 tentang perilaku ibu di dunia digital yang melibatkan 1.200 responden dari seluruh Indonesia, 39 persen responden mengaku makin bergantung pada internet setelah menjadi seorang ibu, dan 95 persen dari angka itu mengaku berbelanja kebutuhan secara online.

Tak hanya itu, 91 persen menyatakan mereka memegang peranan penting dalam mengambil keputusan untuk keluarga, termasuk di antaranya memilih produk ibu dan anak apa yang digunakan.

Meski memang, selain Lilla, di Indonesia sendiri saat ini sudah ada Orami yang juga fokus melayani kebutuhan ibu dan anak. Orami memiliki 5 juta pengguna aktif bulanan, dan telah di akuisisi oleh Sirclo pada Juni 2021 lalu.

Kalau secara komprehensif kita analisis, ini lah strategi bisnis dari Social Bella: nantinya tidak hanya pengguna Sociolla bisa terkonversi menjadi pengguna Lilla saat mulai mengasuh anak, tetapi anak yang sejak kecil sudah terekspos dengan brand Lilla juga berpotensi beralih menjadi pengguna Sociolla saat tumbuh remaja.

 

***

 

Konten ini ditulis oleh Fachmy Casofa, Founder of Enxyclo Creative Network Company. Topik-topik dalam Founder’s Note ditulis untuk mengeluarkan uneg-uneg sekaligus perspektif yang saya dapatkan dalam dunia bisnis untuk segera saya tuangkan lewat tulisan.

Tinggalkan Balasan

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected!